![]() |
SF (34) nekat membakar rumah istrinya diduga terbakar emosi akibat pertengkaran rumah tangga. |
Aksi nekat itu terjadi pada 25 Februari 2025. SF yang menuduh istrinya berselingkuh, sempat mengancam akan membakar rumah. Ancaman tersebut ternyata bukan sekadar omongan kosong. Malam itu, rumah Safwana benar-benar hangus dilalap api.
Yang lebih menggemparkan, anak korban menyaksikan SF bertepuk tangan sambil menyaksikan api berkobar melahap rumah tersebut. Diduga, api bersumber dari botol berisi bahan bakar minyak (BBM) yang dilempar oleh pelaku.
Usai kejadian, SF melarikan diri ke kawasan Tanoh Anoe, Idi Rayeuk, Aceh Timur. Namun pelariannya berakhir pada Senin dini hari (17/3) setelah Tim Peucrok Satreskrim Polres Aceh Utara berhasil meringkusnya.
Akibat insiden ini, Safwana kehilangan tempat tinggal dan mengalami kerugian besar. Polisi kini tengah mendalami kasus tersebut untuk proses hukum lebih lanjut.
Dibakar Api Cemburu
Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K melalui Kasat Reskrim AKP Dr. Boestani, S.H., M.H., M.S.M, mengungkapkan bahwa SF menjadi buronan selama beberapa waktu karena kerap berpindah lokasi.
Dari hasil penyelidikan terungkap, kejadian tragis tersebut berawal dari rasa cemburu yang memuncak. Safwana, korban sekaligus istri SF, mengaku pertengkaran terjadi karena SF melarangnya menghadiri pernikahan anaknya dari pernikahan sebelumnya. SF diduga merasa tidak nyaman karena acara tersebut turut dihadiri oleh mantan suami Safwana.
Emosi yang tak terbendung berujung pada aksi nekat SF membakar rumah mereka pada 25 Februari 2025, sekitar pukul 03.00 dini hari. Menurut keterangan Siska Rozani, anak Safwana yang menjadi saksi, SF tampak bertepuk tangan sambil menyaksikan rumah tersebut dilalap api. Api diduga berasal dari botol berisi bahan bakar minyak (BBM) yang dilempar oleh peSafwan.
Saat ini, SF telah ditahan di Rutan Mapolres Aceh Utara untuk menjalani proses penyelidikan lebih lanjut. Polisi berkomitmen mendalami kasus ini secara menyeluruh agar semua aspek hukum terpenuhi sebelum berkas perkara dilimpahkan ke kejaksaan.
Kasus ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengendalian emosi dalam menghadapi masalah rumah tangga agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.(Tim Siyasah)