Perjuangan Cinta di Ujung Harapan: Kisah Ayra Kaysa yang Menggetarkan Hati

Tim Siyasah
26.3.25
Last Updated 2025-03-27T02:59:03Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
Ayra Kaysa telah tiada, namun jejak kisahnya akan selalu hidup. Ia adalah bukti bahwa cinta, harapan, dan kepedulian bisa menggerakkan banyak hati untuk bersatu.
Tangis duka pecah mengiringi kedatangan jenazah Ayra Kaysa.  

Di sebuah rumah sederhana di Desa Matang Pereulak, Aceh Timur, tangis duka pecah mengiringi kedatangan jenazah Ayra Kaysa. Balita itu telah menyelesaikan perjuangan panjangnya melawan penyakit bocor jantung yang dideritanya sejak berusia dua bulan.

Bagi kedua orang tuanya, Muhammad Zahidi dan istrinya, Ayra adalah anugerah terindah yang mereka miliki. Namun, takdir berkata lain. Upaya mereka yang penuh harapan membawa Ayra ke Jakarta demi pengobatan terbaik akhirnya berujung pilu.

Perjalanan Penuh Harapan

Kisah perjuangan Ayra bermula saat ia didiagnosis mengalami bocor jantung di usia dua bulan. Sebagai keluarga kurang mampu, Muhammad Zahidi dan istrinya hanya bisa mengandalkan pengobatan di Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSZA) Banda Aceh.

Saat dokter menyarankan agar Ayra dirujuk ke Jakarta untuk perawatan lebih lanjut, mereka hampir putus asa. Biaya besar untuk berobat di ibu kota terasa mustahil bagi mereka. Namun, titik terang datang ketika Haji Uma, Anggota DPD RI asal Aceh, bersedia membantu.

Dengan bantuan Haji Uma, Ayra beserta kedua orang tuanya berangkat ke Jakarta untuk berobat di Rumah Sakit Harapan Kita (RS Harkit). Selama di Jakarta, mereka tinggal di rumah singgah dengan biaya makan dan tempat tinggal yang ditanggung sepenuhnya oleh Haji Uma.

Takdir yang Berbeda

Tiga bulan lamanya Ayra menjalani perawatan intensif. Setiap hari, kedua orang tuanya dengan setia menemani di sisi ranjang rumah sakit, berharap keajaiban akan datang. Namun, Selasa (25/3/2025) pukul 16.00 WIB, perjuangan Ayra berakhir. Balita mungil itu mengembuskan napas terakhirnya.

Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga. Ayra yang begitu mereka cintai kini telah pergi. Namun, di tengah duka, mereka harus berjuang lagi untuk membawa pulang jenazah sang buah hati ke kampung halaman.

Perjalanan Pulang yang Penuh Cinta

Haji Uma kembali turun tangan. Ia berkoordinasi dengan Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) untuk memastikan jenazah Ayra dapat segera dipulangkan.

Biaya pengurusan jenazah, ditanggung penuh oleh Haji Uma. Sementara BPPA menanggung biaya tiket pesawat dan pendampingan hingga ke Bandara Kualanamu, Medan.

Pada Rabu (26/3/2025) pagi, jenazah Ayra tiba di Bandara Kualanamu. Staf Haji Uma yang menjemput turut memastikan semua proses berjalan lancar. Sore harinya, jenazah akhirnya tiba di kampung halaman, disambut tangis pilu keluarga dan warga setempat.

Duka yang Menyatukan

Kepergian Ayra meninggalkan duka mendalam, namun juga menyorot indahnya kepedulian yang mengalir dari banyak pihak.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Saya turut berduka cita atas berpulangnya ananda Ayra Kaysa. Sejak awal, kami berusaha agar Ayra mendapat pengobatan terbaik, namun Allah SWT berkehendak lain. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujar Haji Uma.

Bagi Zahidi, kebaikan yang diterimanya selama masa sulit ini begitu membekas.

"Kami sangat berterima kasih kepada Haji Uma dan semua pihak yang telah membantu kami. Kami tidak bisa membalas kebaikan ini, hanya Allah yang mampu membalasnya," katanya dengan suara bergetar.

Pelajaran Tentang Cinta dan Harapan

Ayra Kaysa telah tiada, namun jejak kisahnya akan selalu hidup. Ia adalah bukti bahwa cinta, harapan, dan kepedulian bisa menggerakkan banyak hati untuk bersatu.

Ayra telah berjuang, dan kisahnya mengajarkan bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada tangan-tangan kebaikan yang siap membantu. Meski berakhir dalam duka, perjuangan ini adalah bukti bahwa cinta tidak pernah sia-sia.(Tim) 
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl